Pekan lalu adalah pekan yang sangat menguras emosi dan kekuatanku. Pekan lalu, dia memperingati hari jadinya. hmmm…. dia sudah memasuki usia kepala 3. Sesuatu yang memang patut disyukuri, namun juga perlu dipertanyakan =)
Lebih dari seminggu sudah aku mempersiapkan yang terbaik untuknya. Segala sesuatu sudah kurancangkan. Berharap jika kado ku akan menjadi sesuatu yang terbaik yang dapat kuberikan padanya. Tidak perduli bagaimana responnya nanti. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik.
Di terik siang matahari, aku melangkahkan kaki ku menuju parkiran. Matahari, tak maukah kau sedikit bersahabat padaku? Aku ingin memberikan yang terbaik pada ksatria bergitarku? hmmm.. nampaknya matahari keukeh pada pendiriannya. Si Merah turut menemaniku ke Pasar Baroe, ke tempat pelukis langgananku. Akan untuk ke 4 kalinya aku menggunakan jasa beliau. Tiga sebelumnya aku sangat puas dengan karyanya. Negosiasi dan segala perancangan dilakukan disana. Done!
Beberapa hari setelahnya, aku tetap berdoa. “Ya Tuhan, berikanlah gambar terbaik, berkatilah pelukis itu. Aku ingin ini menjadi kado yang indah untuknya” kataku sambil juga mempersiapkan kado regular lain, seperti yang biasanya kuberikan juga pada teman-teman ku ketika mereka berulang tahun.
Senin itu, dengan bersemangat dan deg-dengan aku datang ke tempat pelukis ku. Sungguh alangkah kagetnya ketika aku melihat hasil karyanya. Ya Tuhaaaaaan… ini jauh dari harapanku. Dia sangat berbeda disini. Aku duduk lemas, tak mampu berkata-kata lagi. Kutarik nafas dengan panjang, berusaha menggambarkan dirinya kepada pelukis langgananku ini. Dalam lukisan ini, dia terlihat jauh lebih hitam, jauh lebih gemuk dan pastinya jauh lebih “petruk”. Aku sempat meragukan apakah benar lukisan ini dibuat sendiri oleh pelukis langgananku ini? Jelas berbeda dengan karya-karyanya sebelumnya.
Sedapatnya, dia memperbaiki lukisannya. Sambil menunggu, benakku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk. Haruskah aku mengganti dengan yang baru? Tapi sungguh, gambar ini tidak murah. Aku sudah mengeluarkan uang tabunganku untuk ini. Dan jika aku mengganti dengan yang baru, aku juga harus menambah sejumlah uang operasional kepada pelukisku ini. Benar-benar bukan pilihan yang bijakasana pikirku. Nilainya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan jam tangan seperti yang diinginkannya. Hmmm… aku bingung, benar – benar bingung. Aku pamit kepada pelukisku, sambil membawa lukisannya. Aku berkata jika aku membutuhkan waktu untuk berpikir.
Sesampainya di kantor, aku memperlihatkan gambar ini kepada beberapa orang kepercayaanku. Sengaja aku tidak memberikan pendapat awal kepada mereka. Takut jika mereka terpengaruh oleh pendapatku. Daaaan… mereka semua meresponi dengan hal yang sama. JELEK!! BEDA!! HITAM!! dan terakhir adalah PETRUK (sambil tertawa-tawa) . Aku mencoba untuk senyum. Dalam hati aku menangis. I know.. i know.. i know… dan ternyata hal ini hanya memperburuk keadaan hatiku.
Tinggal menghitung hari menjelang hari besarnya. Aku terus mempertimbangkan pilihan yang masih mungkin kutempuh. Mengulang pembuatan lukisan ini atau mengganti kado dengan jam tangan seperti yang diinginkannya. Namun aku tahu pasti kekuatanku. Aku tidak memiliki dana lebih untuk membeli jam tangan baru saat ini, karena dananya sudah terpakai untuk lukisan gagal itu. Dan lagi, jika aku membelikan jam, aku merasa hal itu terlalu personal. Aku takut melangkah terlalu jauh. Sekali lagi, betapa besarpun aku mengasihi nya, aku masih memegang nilai Timur, yang mungkin dinilai agak terbelakang.
Sambil berpikir, aku pun berusaha membuat kado regularku. Walaupun tergolong berperawakan di atas rata-rata, namun sangat sulit memperoleh foto dirinya dalam keadaan “baik”. Selalu saja wajahnya ekspresif. Aku sudah menyimpan satu foto yang sudah kusimpan selama beberapa bulan, ketika aku turut hadir disebuah event, dimana dia bermain disana. Kugunakanlah semua atributku. Aku ingin menyampaikan padanya, kalau aku menerima dirinya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Termasuk dengan hobby yang sudah menjadi bagian hidupnya.
Setelah melalui pergumulan panjang, yang juga turut menganggu waktu tidurku, setelah di yakinkan oleh salah seorang teman baikku yang memang mengenal kami berdua, terlebih dia mengenalku, kuputuskan untuk tetap memberikannya hadiah itu. thx cil =)
Saat-saat menjelang penyerahan adalah hal yang paling mendebarkan. Sesungguhnya malam itu, aku sudah mengucapkan selamat kepadanya, melalui pesan singkat. Dan sore itu, aku sudah meng upload ucapan di FB ku.. kini tinggal pemberian kadonya, dimana mau tidak mau aku harus berhadapan dengan nya. Sungguh.. lebih baik aku diminta berbicara di depan 1000 orang dari pada harus melakukan ini. Sungguh deg-dengan!
Akhirnya kami bertemu untuk memberikan kado ini. Saat menerima kado ini, dia tampak sangat kaget. Dan tidak berkata sepatah katapun. Hanya melihat kadoku dengan senyum yang dikulum.. aku rasa dia tidak menyangka. Biasanya, aku memberikan kado di pagi hari. Dan kali ini, menjelang malam baru kuberikan. Yang aku ingat.. dia tidak langsung mengucapkan terima kasih. Perlu beberapa waktu baginya. Menjelang kami berpisah, barulah dia mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum. Dalam hati, aku berteriak.. maafkan aku… aku gagal untuk memberikan yang terbaik… tapi aku pun tak mampu untuk menggantinya dengan yang lebih baik. Kusimpan semuanya di dalam hatiku.
Sore itu, aku berniat datang ke gereja, ingin menyampaikan banyak hal kepada Tuhan, ingin menunaikan tanggung jawabku, ingin bertemu dengan teman-teman yang bisa membuatku nyaman. Namun keadaan berkata lain. Aku masih di parkiran kantorku, bersama seorang teman pria, sahabat kesatria bergitarku yang kebetulan berminat pulang bersama denganku. Si Merah ngambek. Dia tak mau hidup. Great! Memang sudah waktunya aku membawanya untuk di service. Pikirku, masih sangguplah dia menunggu sampai Sabtu ini. Tapi ternyata?? Aku panik, bagaimana ini??!! Tanpa kuduga, sahabatnya ini mengubunginya. Siapa tahu dia membawa senjata ampuh untuk mobil matic, ternyata tidak. Tak lama kemudian si Pinky berbunyi, ternyata ia menghubungiku. Mempertanyakan posisiku, apakah aku membawa jumper atau tidak. Huhuhu… sebenarnya beberapa waktu yang lalu, dia sudah memperingatkanku kalau aku harus memiliki satu jumper di mobil, untuk berjaga-jaga jika terjadi hal seperti ini. Dan sampai sekarang aku belum membelinya.
Sahabatnya ini membantuku dengan berusaha mencari driver yang masih ada di kantor, atau mencari siapapun yang memiliki jumper untuk dihubungkan dengan mobilku. Tak sulit bagiku untuk memperoleh bala bantuan karena posisiku masih di kantor. Tak lama, telephone ku berbunyi lagi. Ternyata darinya. Dia mempertanyakan, apakah si Merah sudah bisa menyala atau tidak, apakah sudah ada jumper atau tidak, dll. Dan dia menawarkan untuk membelikan jumper yang dia tahu ada di dekat posisinya sekarang untuk kemudian mengantarkannya ke kantorku. Aku menolaknya. Bukan apa-apa… tapi setahuku, dia sedang menuju tempat latihannya, yang tidak dekat dengan kantorku, dan aku sangat tidak ingin membuat latihannya tergangu. Dan lagi aku masih di kantor, dimana pasti masih banyak orang yang kukenal. Namun dia juga sama kerasnya denganku. Dia memilih menunggu di seputar Menteng, menunggu kabar sekiranya dia memang perlu mengantarkan jumper itu ke kantorku.
Hatiku bertarung. Antara panik karena si merah ngadat, tak enak karena aku sudah janji dengan temanku untuk ke gereja, dan terlebih lagi, karena aku kagum dengan hatinya, yang berisikeras menunggu disana dan akan kembali ke kantorku jika memang si merah tidak bisa nyala di tengah-tengah perjalanannya menuju tempat latihan. Aaaaaahh Tuhan.. tolong aku. Sungguh aku tak bisa melukiskan segala perasaanku : panik, sangat senang, kagum, bingung, semua jadi satu. Setidaknya malam ini aku tahu, kalau dia tidak se cuek yang dikatakan orang – orang. Dan sungguh… untuk kesekian kalinya.. aku kembali menemukan keindahan hatinya yang teramat-sangat. Dan sesungguhnya hal ini lah yang menjadi alasan utamaku untuk mencintainya! Bukan karena ketampananya, bukan hanya karena talenta yang dimilikinya. Namun sungguh oleh karena hatinya yang luar biasa. Tuhaaaaaaan… tolonglah aku.
Keadaan mulai terkendali. Si Merah sudah bisa hidup lagi. Aku langsung menguhubunginya, agar dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat latihan. Dan pastinya juga berterima kasih kepadanya. Tanpa berpikir panjang, aku membawa Si Merah langsung ke bengkel. Rekan-rekanku memperingatkanku untuk menjaga agar mesinya tetap nyala, karena jika sampai mati, sudahlah… tamatlah riwayatku.
Pagi hari, aku kembali ke bengkel. Dan betapa aku kaget dengan berita yang dikatakan si empunya bengkel. Si Merah bisa menyala pagi ini, tanpa jumper. Aku kaget. Meraaaaaaahhh… apa yang kau lalukan?? sudah dua kali ini kau ngambek, namun keduanya justru membawa kebahagiaan untukku. Meraaaaah.. I love you so much =)
Malam itu, temanku mengajaknya bergabung menonton dengan kami. Temanku ini yang mengubunginya ( karena aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk mengajaknya). Ternyata dia datang, aku deg-deg an. Bukan apa-apa.. biasanya kami selalu nonton dengan salah satu sahabat kami, namun baru kali ini, kami menonton tanpanya. Kami kehabisan tiket untuk menonton film yang kami incar sebelumnya. Yang tersisa hanyalah When in Rome. Untungnya film ini sangat menghibur =) Beberapa kali kami semua tertawa lepas, hmmm.. aku senang sekali. Keadaan diperkeruh dengan si temanku ini berusaha bertukar tempat agar jagoan bergitarku duduk berdampingan denganku setelah temanku ini salah memilih bangku.. hahahaha. Temanku yang kedua menggodaku dengan mendorong tubuhku kearahnya ketika ada adegan romantic nya.. eeeeeerrrrrrgghhh menyebalkan sekali ABG ini!!!!!
Tapi aku juga bersyukur, setidaknya semua yang kulakukan seminggu ini sudah semakin jelas. It doesn’t take a genious to read between a line, honey. Dia tidak berkomentar satu katapun tentang kedua hadiahku. Aku pun tak berusaha bertanya, karena sesungguhnya aku malu dan sedih, karena aku tidak bisa memberikan yang terbaik.
Melalui sepekan ini, aku merasa jika aku sudah all out menunjukkan padanya, bahwa yang kukasihi dan ku doakan selama ini hanyalah dirinya. Bukan sahabat kami ( mungkin ini yang diduganya ). Tapi sungguh hanya dirinya. Aku sudah memberikan semua yang terbaik, walaupun hasilnya tak seperti yang ku mau. Kini aku bertelut dihadapan Tuhan. Bapa, semua sudah kulakukan. Segalanya kuserahkan kepadaMu. Jika Engkau berkenan, maka Engkau akan menggerakkan hatinya. Aku tidak akan mungkin mengatakan secara langsung kepadanya. Hanya sebatas inilah yang dapat kulakukan untuk menunjukkan kasihku kepadanya. Tetapi aku tahu, kalau rasa sayang tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu, aku berserah sepenuhnya kepada Mu. Aku mohon, agar Tuhan menjawab dan menentukan jalan terbaik bagi kami berdua. Amin.
Dear you, i hope you understand. it’s not about him, it’s trully about you. Yes, you are my special one =)